Kabar kematian Marco Simoncelli menusuk ulu
hati. Beberapa stasiun televisi luar negeri mengabarkannya berulangkali
menyaingi berita Moamar Qadafi. Tragis. Rasanya pedis.
“Kita tidak bisa yakin memiliki
sesuatu dalam hidup kecuali kita bersedia mati
untuk itu.” Sepenggal kalimat milik gerilyawan
revolusioner Che Guevara teringat begitu saja. Simoncelli tewas bermandi
keringat juga luka di kepala.
Kalimat Che bisa jadi terasa ekstrim, sebab
dalam hidup orang tak melulu harus mati untuk memiliki sesuatu. Tetapi bisa
jadi pula pendapat itu hanya untuk mereka yang takut mati demi pencapaian hidup
paling tinggi. Jangan sandingkan mereka pada Che juga Simoncelli. Dua orang ini
telah memilh jalan revolusinya sendiri.
Tak takut mati.
Seperti Che, Simoncelli tidak hidup untuk
sesuatu yang biasa-biasa saja. Dalam usianya yang singkat adalah catatan
perjuangan yang panjang. Sejak berusia 9 tahun, Simoncelli sudah disegani di berbagai
arena kejuaraan minimoto Italia. Hingga kemudian setahap demi setahap ia pun
menancapkan harap di level tertinggi dunia balap.
Pada awal kemunculannya di MotoGP setahun
lalu, saya sempat berpikir Simoncelli akan meneruskan kejayaan Italia yang
pernah diusung Valentino Rossi. Alasan saya sederhana saja, kebetulan keberanian keduanya lebih lekat pada kata nekat yang
memaksa para pesaing mereka menyerapahkan kata gila. Keduanya sering
memperagakan bagaimana menaklukkan tikungan sirkuit dengan kecepatan yang lebih
tinggi dari yang seharusnya. Entah mengapa saya selalu terkagum-kagum pada
olahragawan yang berani mengambil resiko melawan batas maklum.
Faktanya, musim kedua Simoncelli di MotoGP tahun
ini menunjukkan grafik meningkat. Pemuda yang nyaris berusia 25 tahun itu telah
merasakan 2 kali naik podium serta 2 kali menempati pole position. Tetapi angka 2 seperti sebuah paradoks baginya, hari
minggu itu dia tewas ketika sepeda motornya tergelincir di lap ke-2 dan secara
langsung mengganggu laju 2 pebalap, Colin Edwards dan Valentino Rossi. Edwards
menabrak Simoncelli. Pebalap berjuluk Super Sic tergeletak tak sadarkan diri.
Koma. Lalu sore menjelang jam lima, hidupnya berakhir sampai di sini saja.
Ciao….
Sebaliknya di Stadion Old Trafford seorang pemuda Italia lain justru berseri-seri.
Namanya Mario Balotelli. Ia bersuka lantaran menyumbang 2 gol bagi kemenangan
City atas United dalam derby Manchester. Dengan daya upaya ia bantu timnya
menenggelamkan sesumbar besar Tim Merah yang jadi tuan rumah. Skor akhir 1-6.
United bungkam.
Balotelli adalah sumber kontroversi. Serupa
dengan Simoncelli. Kelakuannya bengal. Sama seperti Simoncelli. Tetapi hidup
Balotelli di lapangan hijau baru dimulai lagi berkat kebesaran hati pelatih
Roberto Mancini padahal insiden di sebuah pertandingan pra musim telah membuat
Mancini marah bukan kepalang. Balotelli membalas sepadan kebaikan hati
pelatihnya dengan gol-gol ke gawang rival sekota. Fantastis. Rasanya pasti manis.
Skor mencolok telah menohok tenggorokan
Setan Merah. Tetapi saya merasa tragedi Simoncelli menjadi pembicaraan hangat
saat makan malam yang entah kapan berhenti. Mungkin di Italia air mata menetes
disana-sini. Di sudut-sudut Roma, Milan atau Cattolica, Turin sampai Verona.
Sungguh, kata-kata tak lagi berarti ketika
tindakan para pemberani mengalahkannya. Saya bayangkan, dalam sepiring spaghetti
pecinta olahraga pekan ini, ada rasa Simoncelli dan Balotelli. Pedis tragedi
MotoGP dan manis di Teater Mimpi dirasa bersama.
Kotak Kerja, 24 Oktober 2011
0 komentar:
Post a Comment