Thursday, November 03, 2011

Simoncelli dan Balotelli dalam Sepiring Spaghetti


Kabar kematian Marco Simoncelli menusuk ulu hati. Beberapa stasiun televisi luar negeri mengabarkannya berulangkali menyaingi berita Moamar Qadafi. Tragis. Rasanya pedis.

 “Kita tidak bisa yakin memiliki sesuatu dalam hidup kecuali kita bersedia mati untuk itu.” Sepenggal kalimat milik gerilyawan revolusioner Che Guevara teringat begitu saja. Simoncelli tewas bermandi keringat juga luka di kepala.

Kalimat Che bisa jadi terasa ekstrim, sebab dalam hidup orang tak melulu harus mati untuk memiliki sesuatu. Tetapi bisa jadi pula pendapat itu hanya untuk mereka yang takut mati demi pencapaian hidup paling tinggi. Jangan sandingkan mereka pada Che juga Simoncelli. Dua orang ini telah memilh jalan revolusinya sendiri.  Tak takut mati.

Seperti Che, Simoncelli tidak hidup untuk sesuatu yang biasa-biasa saja. Dalam usianya yang singkat adalah catatan perjuangan yang panjang. Sejak berusia 9 tahun, Simoncelli sudah disegani di berbagai arena kejuaraan minimoto Italia. Hingga kemudian setahap demi setahap ia pun menancapkan harap di level tertinggi dunia balap.

Pada awal kemunculannya di MotoGP setahun lalu, saya sempat berpikir Simoncelli akan meneruskan kejayaan Italia yang pernah diusung Valentino Rossi. Alasan saya sederhana saja, kebetulan keberanian  keduanya lebih lekat pada kata nekat yang memaksa para pesaing mereka menyerapahkan kata gila. Keduanya sering memperagakan bagaimana menaklukkan tikungan sirkuit dengan kecepatan yang lebih tinggi dari yang seharusnya. Entah mengapa saya selalu terkagum-kagum pada olahragawan yang berani mengambil resiko melawan batas maklum. 

Faktanya, musim kedua Simoncelli di MotoGP tahun ini menunjukkan grafik meningkat. Pemuda yang nyaris berusia 25 tahun itu telah merasakan 2 kali naik podium serta 2 kali menempati pole position. Tetapi angka 2 seperti sebuah paradoks baginya, hari minggu itu dia tewas ketika sepeda motornya tergelincir di lap ke-2 dan secara langsung mengganggu laju 2 pebalap, Colin Edwards dan Valentino Rossi. Edwards menabrak Simoncelli. Pebalap berjuluk Super Sic tergeletak tak sadarkan diri. Koma. Lalu sore menjelang jam lima, hidupnya berakhir sampai di sini saja. Ciao….

Sebaliknya di Stadion Old Trafford  seorang pemuda Italia lain justru berseri-seri. Namanya Mario Balotelli. Ia bersuka lantaran menyumbang 2 gol bagi kemenangan City atas United dalam derby Manchester. Dengan daya upaya ia bantu timnya menenggelamkan sesumbar besar Tim Merah yang jadi tuan rumah. Skor akhir 1-6. United bungkam.

Balotelli adalah sumber kontroversi. Serupa dengan Simoncelli. Kelakuannya bengal. Sama seperti Simoncelli. Tetapi hidup Balotelli di lapangan hijau baru dimulai lagi berkat kebesaran hati pelatih Roberto Mancini padahal insiden di sebuah pertandingan pra musim telah membuat Mancini marah bukan kepalang. Balotelli membalas sepadan kebaikan hati pelatihnya dengan gol-gol ke gawang rival sekota. Fantastis. Rasanya pasti manis.

Skor mencolok telah menohok tenggorokan Setan Merah. Tetapi saya merasa tragedi Simoncelli menjadi pembicaraan hangat saat makan malam yang entah kapan berhenti. Mungkin di Italia air mata menetes disana-sini. Di sudut-sudut Roma, Milan atau Cattolica, Turin sampai Verona. 

Sungguh, kata-kata tak lagi berarti ketika tindakan para pemberani mengalahkannya. Saya bayangkan, dalam sepiring spaghetti pecinta olahraga pekan ini, ada rasa Simoncelli dan Balotelli. Pedis tragedi MotoGP dan manis di Teater Mimpi dirasa bersama.

Kotak Kerja, 24 Oktober 2011

0 komentar: