Thursday, November 03, 2011

Selalu Ada Harapan Sebesar Punya Manolo


Malam, Bro. Agak panas nih menjelang duel of the reds. Udah siap terima nasib kan, Bro?

Hujan basahi malam saat kata datang menikam.  Dua kalimat dalam blackberry messenger itu saya terima dari seorang kawan satu hari menjelang pertandingan Liverpool melawan Manchester United pada 15 Oktober lalu. Ia pendukung fanatik United, saya pecinta Liverpool.

Ia memang kerap menggoda saya perihal prestasi Liverpool dalam dua puluhan tahun terakhir. Raja kompetisi domestik adalah gelar yang enggan mampir sejak terakhir kali direngkuh tahun 1990. Apalagi soal ketidakberdayaan The Anfield Gank di era Premier League. Manchester United: 12, Liverpool: nol. Lalu Liverpool pun menjadi kisah raja masa lalu. Untuk fakta ini saya terima nasib. Pahit. Sepahit rasa kalimat sinis para pembenci Liverpool,“You will never win again.”

Tetapi mendukung sebuah tim adalah soal hati. Olok-olok yang mendidihkan emosi tak lantas memaksa saya pindah, mendukung tim lain yang berpotensi mendominasi. “Itu seperti pindah agama. Itu seperti mengkhianati cinta,” tegas saya suatu kali. Menegaskan pengharapan.

Sudah lebih dari dua puluh tahun saya mendukung Liverpool tanpa pernah berhenti berharap dari musim ke musim. Sejak era John Barnes sampai Luis Suarez.  Menangisi Tragedi Heysel dan Hillsborough. Meyakinkan diri untuk tidak membiarkan mereka berjalan sendirian. Mungkin, itu hanya  sebentuk dukungan yang  tidak berpengaruh langsung bagi tim pemilik Badge of Honor UEFA. Dukungan yang tak sampai seujung kuku jika dibandingkan dengan seorang Manolo. Suporter  tim nasional Spanyol yang dikenal setia menabuhkan drum dukungannya sejak Piala Dunia 1982.

Saya dan seorang rekan produser beruntung ditugaskan untuk meliput Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Setelah menyaksikan kolaborasi Maradona dan Lionel Messi saat Argentina mengalahkan Meksiko 3-1 di Soccer City Stadium saya pun berharap bisa mendengar langsung kerasnya suara El Bombo de Espana yang ditabuh Manolo.

Dari Johannesburg ke Cape Town. Empat belas jam perjalanan darat. Spanyol akan menghadapi Portugal di perdelapan final. Di stasiun televisi lokal saya saksikan Manolo yang bernama lengkap Manuel Caceres Artesero telah tiba di kota wisata kebanggaan negeri Mandela. Di antara gunung-gunung batu dan perkebunan anggur kendaraan kami terus meluncur.

Para suporter La Furia Roja menghangatkan Cape Town yang kehujanan. Suasana di sekitar Green Point Stadium memerah. Menenggelamkan hijau Portugal. Adakah Manolo satu di antara puluhan ribu suporter merah itu?

Setelah David Villa mencetak gol kemenangan Spanyol di menit 63 barulah saya tahu. Manolo dan El Bombo de Espana muncul di layar lebar melakukan selebrasi atas gol Villa. Suara drumnya tak terdengar meski sayup sekalipun, tenggelam dalam dasar arus suara terompet vuvuzela.

Saya tidak berhasil menemukan Manolo sesungguhnya di antara kegembiraan suporter Spanyol seusai laga. Sebab beberapa sosok Manolo tiruan berkeliaran. Mereka mengenakan pakaian dan drum khas Manolo. Meneriakkan yel-yel sambil mendentumkan drum. Ya, Manolo yang bukan Manolo. Sah-sah saja, ini pesta. Tetapi arti penting suporter sejati tetaplah sama. Mereka selalu punya harapan terhadap tim kesayangannya. Saya salah satunya.

Bro, Liverpool 1:1 United. Harapan tak berhenti sampai di situ.

Kotak Kerja, 18 Oktober 2011

0 komentar: