Malam,
Bro. Agak panas nih menjelang duel of the reds. Udah siap terima nasib kan,
Bro?
Hujan basahi malam saat
kata datang menikam. Dua kalimat dalam
blackberry messenger itu saya terima dari seorang kawan satu hari menjelang pertandingan
Liverpool melawan Manchester United
pada 15 Oktober lalu. Ia pendukung fanatik United, saya pecinta Liverpool.
Ia memang kerap menggoda saya perihal
prestasi Liverpool dalam dua puluhan tahun terakhir. Raja
kompetisi domestik adalah gelar yang enggan mampir sejak terakhir kali
direngkuh tahun 1990. Apalagi soal ketidakberdayaan The Anfield Gank di era Premier League. Manchester United: 12, Liverpool: nol. Lalu
Liverpool pun menjadi kisah raja masa lalu. Untuk fakta ini saya terima nasib. Pahit. Sepahit rasa kalimat sinis para pembenci Liverpool,“You will never win again.”
Tetapi mendukung sebuah tim adalah soal hati. Olok-olok yang mendidihkan emosi tak lantas
memaksa saya pindah, mendukung tim lain yang berpotensi mendominasi. “Itu
seperti pindah agama. Itu seperti mengkhianati cinta,” tegas saya suatu kali.
Menegaskan pengharapan.
Sudah lebih dari dua puluh tahun saya mendukung Liverpool tanpa pernah berhenti
berharap dari musim ke musim. Sejak era John Barnes sampai Luis Suarez. Menangisi Tragedi Heysel dan
Hillsborough. Meyakinkan diri untuk tidak membiarkan mereka berjalan sendirian.
Mungkin, itu hanya sebentuk dukungan yang tidak berpengaruh langsung bagi
tim pemilik Badge of Honor UEFA. Dukungan
yang tak sampai seujung kuku jika dibandingkan dengan seorang Manolo. Suporter tim nasional Spanyol yang dikenal setia
menabuhkan drum dukungannya sejak Piala Dunia 1982.
Saya dan seorang rekan
produser beruntung ditugaskan untuk meliput Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.
Setelah menyaksikan kolaborasi Maradona dan Lionel Messi saat Argentina
mengalahkan Meksiko 3-1 di Soccer City Stadium saya pun berharap bisa mendengar
langsung kerasnya suara El Bombo de Espana yang ditabuh Manolo.
Dari Johannesburg ke
Cape Town. Empat belas jam perjalanan darat. Spanyol akan menghadapi Portugal
di perdelapan final. Di stasiun televisi lokal saya saksikan Manolo yang
bernama lengkap Manuel Caceres Artesero telah tiba di kota wisata kebanggaan
negeri Mandela. Di antara gunung-gunung batu dan perkebunan anggur kendaraan
kami terus meluncur.
Para suporter La Furia
Roja menghangatkan Cape Town yang kehujanan. Suasana di sekitar Green Point
Stadium memerah. Menenggelamkan hijau Portugal. Adakah Manolo satu di antara
puluhan ribu suporter merah itu?
Setelah David Villa
mencetak gol kemenangan Spanyol di menit 63 barulah saya tahu. Manolo dan El
Bombo de Espana muncul di layar lebar melakukan selebrasi atas gol Villa. Suara
drumnya tak terdengar meski sayup sekalipun, tenggelam dalam dasar arus suara
terompet vuvuzela.
Saya tidak berhasil
menemukan Manolo sesungguhnya di antara kegembiraan suporter Spanyol seusai
laga. Sebab beberapa sosok Manolo tiruan berkeliaran. Mereka mengenakan pakaian
dan drum khas Manolo. Meneriakkan yel-yel sambil mendentumkan drum. Ya, Manolo
yang bukan Manolo. Sah-sah saja, ini pesta. Tetapi arti penting suporter sejati
tetaplah sama. Mereka selalu punya harapan terhadap tim kesayangannya. Saya
salah satunya.
Bro,
Liverpool 1:1 United. Harapan tak berhenti sampai di situ.
Kotak Kerja, 18
Oktober 2011
0 komentar:
Post a Comment