Sudah hampir jam enam sore. Bagi beberapa
teman sudah waktunya meninggalkan kantor. Hujan masih menderas di luar sana.
“Menunggu memang kesal juga resah menanti jawabannya. Apa yang ada dihatinya,
dihatinya….”
Jujur, suara teman saya itu jauh dari kata
merdu. Apalagi ketika ia melantunkan lagu Kahitna berjudul Bagaimana dengan
tambahan nada kesal akibat hujan tak kunjung reda. Tidakkah dia sadar bahwa
Yovie Widianto akan dibuatnya kesal dengan cara bernyanyinya yang asal? Hahaha.
Menunggu menjadi sebuah kata yang membuncahkan ragu. Meski tak selalu begitu.
Sebelum Barcelona bermain di kandang Viktoria
Plzen semua pecinta Barcelona paling tidak dipaksa menunggu beberapa hal.
Bagaimana improvisasi yang akan diperagakan punggawa El Barca di hadapan Plzen
yang diprediksi bakal fokus pada pertahanan? Berapa banyak gol yang akan
dicetak Azulgrana dalam besutan ke-200 Pep Guardiola? Apakah Lionel Messi akan
mencetak gol ke-200 dalam partai resmi bersama Barcelona? Juga mampukah Messi
menambah torehan 39 golnya di Liga Champions Eropa?
Menjelang waktu kick-off saya kecewa. Televisi swasta yang memiliki hak siar Liga
Champions Eropa ternyata memilih untuk menayangkan Arsenal versus Marseille di
Emirates Stadium London. Yah, apa boleh buat. Sebagai penonton tanpa bayar kita
santap saja yang disajikan layar. Hasil akhirnya tak menghapus rasa jemu: 0-0.
Tentu saja saya tak bisa menyaksikan
bagaimana improvisasi Barcelona di Praha. Saya hanya bisa mengandalkan sebuah situs
skor terkini untuk mengetahui perkembangan di sana.
Tanda bencana mendatangi Viktoria. Marian
Cisovsky mengganjal Messi di kotak penalti pada menit 22. Kartu merah untuknya.
Saya berharap Messi akan mengambil tendangan penalti, membayar kegagalannya di
hadapan kiper Sevilla Javi Varas di Jornada 9 La Liga Primera.
Harapan saya terkabul. Pada laman situs itu
tertulis: 24'[0 - 1]L. Messi (pen.)
Saya bungah. Messi mencetak gol
keduaratusnya bagi Barcelona sekaligus gol keempatpuluhnya di kancah kompetisi
antarklub juara di Eropa menyamai pencapaian Alessandro Del Piero. Wah!
Pertandingan belum lagi sepertiga aturan
waktu. Meskipun saya tetap penasaran pada hasil akhirnya nanti, tetapi yang
paling saya tunggu adalah Messi mencatatkan rekor baru. Bagi saya pemain
Argentina ini adalah keajaiban dunia, salah satu anugerah Tuhan bagi sepakbola
jagat raya.
Messi memang tidak setiap minggu bisa
mencetak gol. Bahkan ia tidak melulu bermain baik saat diturunkan hingga kritik
berdatangan kearah El Pulga. Apalagi jika dikaitkan dengan permainannya bersama
Argentina. Tetapi bagi saya, kritik itu sebenarnya hanyalah sebentuk harapan
dari mereka yang ingin selalu dimanjakan aksi magis seorang Messi. Selalu dan
selalu.
Rasanya mereka harus menyimak ungkapan Cesc
Fabregas kepada Mundo Deportivo beberapa
waktu lalu, "Messi adalah yang terbaik dan terlahir untuk jadi pemenang.
Messi selalu ingin mencetak gol. Bagaimanapun, hal besar dalam sepak bola
adalah seorang pemain terbaik tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kembali
kemampuannya”.
Fabregas benar. Messi mencetak hattrick di kota yang lebih dikenal
sebagai penghasil bir Pilsener ketimbang klub sepakbolanya. Hattrick kedua dalam kurun 3 hari saja
setelah ia koyak-koyak jala Mallorca. Itu artinya Messi kemudian mencetak gol
nomor 201 dan 202 dalam karirnya bersama Barcelona. Ditambah sebiji gol Fabregas, Barca pulang
membawa kemenangan besar.
Bagi saya, menunggu Messi seperti dini hari
lalu itu perlu. Menunggu bagaimana ia akan menghibur lewat aksinya di lapangan.
Berharap ia pecahkan rekor lama menjadi rekor baru. Menunggu ia lelehkan cibiran
orang melalui permainan apik juga gol cantik saat membela Barcelona dan Argentina.
Menunggu setiap sepak terjang pemain rendah
hati itu tak pernah membuat saya meragu. Meskipun kerap ada riak-riak kecewa,
tentu. Tetapi saya hanya pemain keduabelas yang sokongannya hanya dari luar
layar gelas. Duduk manis, berselebrasi kecil ketika rekor fantastis dibuat
pemain bertubuh mungil.
“Our
next game is going to be an important one as it always is against such a team
as Milan, and top spot in the group is going to be at stake,” begitu kata Messi usai pertandingan seperti dilansir UEFA.com.
Messi mengajak saya menunggu. Seperti hidup
mengajari saya untuk sabar dan setia pada pilihan dan komitmen yang berjemalin
dengan waktu. Hujan telah reda. Saatnya meninggalkan rutin kerja. Menikmati
jalanan basah, menantang macet Jakarta.
“Oh, jauh sekali rumahku. Macet melulu, Pak
Fauzi Bowo, Gubernur gantengku…,” Teman saya tadi memang penggemar Kahitna yang
sedang kesal yang dengan bengal memelesetkan lirik Seandainya Bisa Terbang
untuk mengantarnya pulang.
Kalau menunggu jalanan Jakarta bebas macet
apa itu juga perlu? Hahaha.
Pulogadung, November 2011
1 komentar:
beberapa tulisan terakhir bertema olahraga
lagi menyehatkan diri rupanya
salam bang, semoga sehat selalu
Post a Comment