Sunday, November 06, 2011

Menunggu (Rekor Messi) Itu Perlu


Sudah hampir jam enam sore. Bagi beberapa teman sudah waktunya meninggalkan kantor. Hujan masih menderas di luar sana. “Menunggu memang kesal juga resah menanti jawabannya. Apa yang ada dihatinya, dihatinya….”

Jujur, suara teman saya itu jauh dari kata merdu. Apalagi ketika ia melantunkan lagu Kahitna berjudul Bagaimana dengan tambahan nada kesal akibat hujan tak kunjung reda. Tidakkah dia sadar bahwa Yovie Widianto akan dibuatnya kesal dengan cara bernyanyinya yang asal? Hahaha. Menunggu menjadi sebuah kata yang membuncahkan ragu. Meski tak selalu begitu.

Sebelum Barcelona bermain di kandang Viktoria Plzen semua pecinta Barcelona paling tidak dipaksa menunggu beberapa hal. Bagaimana improvisasi yang akan diperagakan punggawa El Barca di hadapan Plzen yang diprediksi bakal fokus pada pertahanan? Berapa banyak gol yang akan dicetak Azulgrana dalam besutan ke-200 Pep Guardiola? Apakah Lionel Messi akan mencetak gol ke-200 dalam partai resmi bersama Barcelona? Juga mampukah Messi menambah torehan 39 golnya di Liga Champions Eropa?

Menjelang waktu kick-off saya kecewa. Televisi swasta yang memiliki hak siar Liga Champions Eropa ternyata memilih untuk menayangkan Arsenal versus Marseille di Emirates Stadium London. Yah, apa boleh buat. Sebagai penonton tanpa bayar kita santap saja yang disajikan layar. Hasil akhirnya tak menghapus rasa jemu: 0-0.

Tentu saja saya tak bisa menyaksikan bagaimana improvisasi Barcelona di Praha. Saya hanya bisa mengandalkan sebuah situs skor terkini untuk mengetahui perkembangan di sana. 

Tanda bencana mendatangi Viktoria. Marian Cisovsky mengganjal Messi di kotak penalti pada menit 22. Kartu merah untuknya. Saya berharap Messi akan mengambil tendangan penalti, membayar kegagalannya di hadapan kiper Sevilla Javi Varas di Jornada 9 La Liga Primera.

Harapan saya terkabul. Pada laman situs itu tertulis: 24'[0 - 1]L. Messi (pen.)

Saya bungah. Messi mencetak gol keduaratusnya bagi Barcelona sekaligus gol keempatpuluhnya di kancah kompetisi antarklub juara di Eropa menyamai pencapaian Alessandro Del Piero. Wah! 

Pertandingan belum lagi sepertiga aturan waktu. Meskipun saya tetap penasaran pada hasil akhirnya nanti, tetapi yang paling saya tunggu adalah Messi mencatatkan rekor baru. Bagi saya pemain Argentina ini adalah keajaiban dunia, salah satu anugerah Tuhan bagi sepakbola jagat raya.

Messi memang tidak setiap minggu bisa mencetak gol. Bahkan ia tidak melulu bermain baik saat diturunkan hingga kritik berdatangan kearah El Pulga. Apalagi jika dikaitkan dengan permainannya bersama Argentina. Tetapi bagi saya, kritik itu sebenarnya hanyalah sebentuk harapan dari mereka yang ingin selalu dimanjakan aksi magis seorang Messi. Selalu dan selalu. 

Rasanya mereka harus menyimak ungkapan Cesc Fabregas kepada Mundo Deportivo beberapa waktu lalu, "Messi adalah yang terbaik dan terlahir untuk jadi pemenang. Messi selalu ingin mencetak gol. Bagaimanapun, hal besar dalam sepak bola adalah seorang pemain terbaik tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kembali kemampuannya”.

Fabregas benar. Messi mencetak hattrick di kota yang lebih dikenal sebagai penghasil bir Pilsener ketimbang klub sepakbolanya. Hattrick kedua dalam kurun 3 hari saja setelah ia koyak-koyak jala Mallorca. Itu artinya Messi kemudian mencetak gol nomor 201 dan 202 dalam karirnya bersama Barcelona.  Ditambah sebiji gol Fabregas, Barca pulang membawa kemenangan besar.

Bagi saya, menunggu Messi seperti dini hari lalu itu perlu. Menunggu bagaimana ia akan menghibur lewat aksinya di lapangan. Berharap ia pecahkan rekor lama menjadi rekor baru. Menunggu ia lelehkan cibiran orang melalui permainan apik juga gol cantik saat membela Barcelona dan Argentina.

Menunggu setiap sepak terjang pemain rendah hati itu tak pernah membuat saya meragu. Meskipun kerap ada riak-riak kecewa, tentu. Tetapi saya hanya pemain keduabelas yang sokongannya hanya dari luar layar gelas. Duduk manis, berselebrasi kecil ketika rekor fantastis dibuat pemain bertubuh mungil.

“Our next game is going to be an important one as it always is against such a team as Milan, and top spot in the group is going to be at stake,” begitu kata Messi usai pertandingan seperti dilansir UEFA.com.

Messi mengajak saya menunggu. Seperti hidup mengajari saya untuk sabar dan setia pada pilihan dan komitmen yang berjemalin dengan waktu. Hujan telah reda. Saatnya meninggalkan rutin kerja. Menikmati jalanan basah, menantang macet Jakarta. 

“Oh, jauh sekali rumahku. Macet melulu, Pak Fauzi Bowo, Gubernur gantengku…,” Teman saya tadi memang penggemar Kahitna yang sedang kesal yang dengan bengal memelesetkan lirik Seandainya Bisa Terbang untuk mengantarnya pulang. 

Kalau menunggu jalanan Jakarta bebas macet apa itu juga perlu? Hahaha.

Pulogadung, November 2011

1 komentar:

Tilarso said...

beberapa tulisan terakhir bertema olahraga
lagi menyehatkan diri rupanya

salam bang, semoga sehat selalu