Saya bukan fans Juventus. Di kompetisi
Serie A saya mendukung Internazionale Milan karena di klub itu banyak pemain
Argentina berkeliaran. Tetapi selayaknya Javier Zanetti, pada Alessandro Del
Piero saya angkat topi.
Zanetti dan Del Piero adalah dua sosok
pemain dengan loyalitas tinggi. Jika Zanetti telah berbaju Inter sejak tahun
1995, Del Piero lebih lama lagi. Pemain kelahiran Conegliano yang pada 9
November nanti akan berusia 37 tahun itu
sudah berseragam zebra dari tahun 1993. Bahkan kesetiaan Del Piero benar-benar
dibuktikan saat dirinya tak lantas membuang seragam Juventus ketika tim yang
membesarkan namanya didegradasi ke Serie B akibat skandal Calciopoli.
Terang-terangan ia katakan tetap setia pada keluarga Agnelli.
Tetapi saya terkejut hari ini ketika
membaca naskah pidato Presiden Juventus Andrea Agnelli di depan para pemegang
saham klub yang dimuat di situs resmi.
“The
only connection between Juventus’ recent homes - from the ‘Comunale’ to the
‘Delle Alpi’, from the Olympic Stadium to the Juventus Stadium - is our
captain, Alessandro Del Piero, to whom I’d like to dedicate a big hand, because
he strongly wanted to stay at Juventus for one year more and for his last
season wearing this shirt.”
Ah! Del Piero akan pergi. Saya bersedih
sebagai bukan seorang Juventini. Bolehkan saya bertanya pada Agnelli,
“Mengapa?”
Del Piero memang tak muda lagi bahkan
sampai tulisan ini saya buat ia telah bermain selama 18 tahun lebih bagi
Juventus. Saya pun berandai-andai, mungkin saja Del Piero telah sampai pada
kejenuhannya setelah menjadi pemain yang paling sering membela Juventus
sebanyak 682 kali dalam partai-partai resmi sejauh ini, mencetak hampir 300
gol, mempersembahkan 15 gelar yang diakui, dan memberi gelar Juara Dunia 2006
bagi Italia yang ia cintai.
Tetapi mengapa, Agnelli? Mengapa tak
kaubiarkan seorang Il Fenomeno Vero menuntaskan
kesejatiannya lalu menyatakan pensiun di Juventus dengan mulutnya sendiri?
Bukankah kau tahu betapa Del Piero meletakkan hatinya bagi klubmu ini?
Saya membayangkan Del Piero sedang
menepi setelah mendengar perkataan Agnelli, setelah delapan belas tahun lebih
mengabdi pada klan Agnelli. Segelas wine di tangannya, memandangi Città di Conegliano yang anggun abadi. Ia
senandungkan lirik lagu anggitan Noel Gallagher, “Keep praying that the Lord won’t slow me down….”
Alessandro Del Piero telanjur abadi. Sepakbola
industri terasa keji.
Kotak kerja, 19 Oktober 2011
0 komentar:
Post a Comment