Jam enam tepat.
Secangkir kopi pekat
tak nikmat.
Aku seruput ia
seraya kuputuskan
untuk tak kalah pasrah
pada masa depan
yang titiannya
diganggu
orang-orang payah. Mereka
yang tak mau tahu
betapa pada saatnya
kepala-kaki kami
menaklukkan
waktu.
Semarang, Juli 2011
0 komentar:
Post a Comment