Saturday, June 25, 2011

Ruyati dan Keparat

"Tuan aparat, ada lagi perempuan buruh mati. Murah sekali
harga nyawa di ini negeri."

"Kata siapa nyawa di negeri ini harganya murah? Ah, ngawur itu.
Tidak benar itu. Membunuh bukan lagi pekerjaan kami.
Sebab nyawa puan-puan semenjana, kacung yang tak tahan siksa
kami biarkan mati, dipancung
di luar negeri."

"Tuan, kau keparat!"

Pulogadung, Juni 2011

0 komentar: