Sesekali kau tumpahkan
resah
ke secangkir kopi di depanmu
seraya membiarkan Fourplay alunkan Journey
ke Play Lady Play. Tenggat membuatmu penat. Stagnasi
mendekap senang hati. Tak hendak pergi, tak mau pergi.
Sehingga bagimu resah dan kopi itu sejati
yang pahitnya mengirimkanmu pada ekstasi. Tumpahkan
resah kepada kopi, katamu, sebab
untuk itulah kedai-kedai kopi dilahirkan jaman ke jaman,
di gang-gang becek hingga ruang sejuk tempat kongsi
orang-orang brengsek. Untuk menumpahkan ludah-ludah resah
kepada kopi. Sebab, katamu lagi, sudah takdirnya
resah bertemu resah dalam robusta atau arabika
dari tanah-tanah petani miskin di Latin Amerika sampai Afrika.
Kenapa Chant kau baca sebagai chain? Bukan main.
Pulogadung, Juni 2011
0 komentar:
Post a Comment